Gerindra Tegaskan Tetap Oposisi: 68 Juta Bunyi Harus Dihargai
Juni 29, 2019
Tambah Komentar

DEMOKRASI - Partai Gerindra mengambil perilaku untuk tetap berada di luar pemerintahan alias oposisi. Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Maher Algadri, menyampaikan kekuatan oposisi dengan hasil bunyi Pilpres 45 persen perlu dihargai dengan tetap menjadi oposisi yang konstruktif.
“Kalau aku bilang jangan (gabung pemerintah). Proses demokrasi itu yakni pemilihan. Kaprikornus yang kalah biar tetap kalah, yang menang, menang. Biar yang kalah di luar menjadi oposisi, kalau enggak bukan (demokrasi),” kata Maher usai jumpa pers di kediaman Prabowo, Kertanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (27/6).
“45 persen itu bukan kecil, besar sekali. Makanya, ini kan bukan persoalan Prabowo atau apa, ini persoalan 45 persen itu (sama dengan) 70 juta lebih (hasil KPU: 68 juta -red). Harus dihargai,” tegas Maher.
Menurut Maher, bila Gerindra masuk ke dalam pemerintahan, maka proses check and balance dan seluruh proses demokrasi tidak akan berjalan dengan baik. Terlebih, koalisi yang gendut sanggup menimbulkan persoalan di dalam pemerintahan.
“Masa semua pada kongko-kongko. Jangan, yang sehat dong. Selalu ada check and balance, jadi tuhan dikontrol oleh oposisi. Oposisi serius lho,” terperinci sahabat semenjak kecil Prabowo itu.
Meski begitu, Maher tak menampik, di internal Gerindra memang ada pihak yang mendorong semoga Prabowo segera bertemu dengan Jokowi sebagai upaya rekonsiliasi pascapilpres.
“Di mana-mana itu selalu ada yang pro kontra. Namanya negara demokrasi enggak ada yang diberangus, lo pro atau lo kontra. Lo pun bebas, lo boleh kasih pendapat, nggak ada yang menolak,” tutupnya.
SUMBER Sumber https://www.demokrasi.co.id
Belum ada Komentar untuk "Gerindra Tegaskan Tetap Oposisi: 68 Juta Bunyi Harus Dihargai"
Posting Komentar